Sunday, September 7, 2008

Kawah Putih dan Situ Patengan

ai temans,

Kawasan Wisata Ciwidey, 18 Mei 2008:

Paket Combo di selatan kota Bandung


Setelah puas menjelajah tiga curug di kawasan Gunung Salak Endah pada hari Sabtu, saya dan Etta lanjut backpacking ke Ciwidey hari Minggu-nya. Kali ini tim kita bertiga: saya, Etta dan Astri.


Sebenarnya saya sudah penasaran banget dengan Ciwidey ini. Banyak sekali blogs yang menceritakan keindahan Kawah Putih dan Situ Patengan yang memang terletak di kawasan wisata Ciwidey. Akhirnya terwujud juga niat ke Ciwidey. Untuk mencapai Ciwidey, rutenya mudah, tapi lamaaaa.. jauuhhh..


  1. Dari Stasiun Bandung, naik bis Damri menuju terminal Leuwi Panjang. Lama perjalanan sekitar 20 menit dan bayar Rp 2500.

  2. Dari terminal Leuwi Panjang, naik elf putih menuju terminal Ciwidey. Lama perjalanan sekitar 1 setengah jam, dan bayar Rp 5000.

  3. Dari terminal Ciwidey, naik angkot menuju Situ Patengan. Angkotnya berwarna kuning. Beware of para tukang ojeg di terminal Ciwidey, agresif banget! Anyway, angkot kuning ini akan melewati (secara berurutan): Kebun Strawberry, Kawah Putih, Pemandian Air Panas Cimanggu, Kebun Teh Rancabali dan terakhir Situ Patengan. Kami sengaja langsung ke Situ Patengan biar pulangnya tinggal turun ke lokasi-lokasi lainnya. Lama perjalanan dari terminal Ciwidey ke Situ Patengan sekitar 1 jam, bayar Rp 15000 (katanya sih termasuk uang masuk ke Situ Patengan, tapi kok mahal banget ya?).


Sesuai namanya (Situ = danau), di Situ Patengan kita bisa menikmati indahnya danau yang terletak di daerah pegunungan ini. Baik dengan hanya santai-santai di tepi danau, ataupun naik perahu mengitari danau dan singgah ke lokasi yang namanya Batu Cinta. Konon, bagi pasangan yang singgah di Batu Cinta, mereka akan langgeng dalam hubungan percintaannya. Oh really?? Yeah rite.

Sayang, ketika kami ke sana, lagi rame banget, jadi sedikit nggak bisa menikmati. Ohya, beware dengan tipuan para tukang perahu! Ketika kami nego untuk naik perahu, deal-nya adalah Rp 10.000 per orang untuk sampai ke Batu Cinta yang terletak di tengah danau. Ketika kami sudah berlayar, dia tiba-tiba langsung balik ke daratan tanpa singgah di Batu Cinta dan tetap minta kami bayar Rp 10.000. Dengan alasan, temannya di tepian tadi meng-sms dia sudah menunggu di tepian karena ada banyak penumpang yang tidak terangkut. Bohong banget! Jelas-jelas dari tadi dia sibuk mendayung. Kami pun hanya memberi uang Rp 5000. Lha wong nggak sesuai kesepakatan awal. Eh dia malah marah-marah dikasih segitu. Kita bayar Rp 7.500 aja. Dasar tukang perahu penipu culas! Nggak berkah tuh uangnya kalo cara kerjanya menipu gitu. Semoga sakit perut berkepanjangan. (sorry, masih emosi dan kesal sama si penipu culas itu). Makhluk macam begini nih yang menodai pariwisata Indonesia. I work in marketing departement, and that is definitely not the way to run business.


Oh ya, jangan khawatir akan kelaparan setelah perjalanan jauh dari Bandung. Di Situ Patengan ini, banyak pilihan warung makan dan tukang gorengan. Ada juga warung-warung suvenir. Banyak juga pengunjung yang mampir dan membeli suvenir.


Setelah puas foto-foto di Situ Patengan, kami mulai perjalanan turun untuk menyinggahi satu per satu lokasi-lokasi yang tadi sudah sempat kami lewati ketika menuju ke Situ Patengan ini. Kami kembali pakai angkot kuning, menuju ke Kebun Teh Rancabali. Lama perjalanan sekitar 15 menit, bayar Rp 1500. Di kebun teh Rancabali, nggak perlu bayar tiket masuk. Langsung selonong boy aja. Di sini kita bisa puas menikmati hamparan hijau daun teh.


Dari kebun teh Rancabali, karena waktu sudah jam 3 sore, kami langsung menuju Kawah Putih. Kembali naik angkot kuning, lama perjalanan sekitar 15 menit dan bayar Rp 2000. Untuk masuk ke lokasi wisata Kawah Putih, kami membayar tiket masuk sebesar Rp 6000 per orang. Dari pintu masuk, ada dua pilihan kendaraan untuk mencapai kawah: ojeg atau mobil safari. Kalau mobil safari, tarifnya Rp 6000 tapi harus menunggu sampai penuh. Kami memutuskan untuk lanjut naik ojeg ke puncak gunung, untuk menuju kawah. Perjalanan dari pintu masuk hingga ke lokasi kawah cukup seru dan menanjak. Lokasinya masih alami. Karena naik ojek, terasa banget dinginnya udara pengunungan yang menerpa badan. Setelah sekitar 20 menit ngojeg, kami tiba di lokasi kawah yang ternyata lebih ramai daripada di pintu masuk. Untuk ojeg ini, kami bayar Rp 20.000 pp. Tapi si pak ojeg nggak perlu nungguin kita. Tinggal bilang aja minta dijemput jam berapa, nanti dia akan datang menjemput.


Lokasi tempat kita di-drop sama pak ojeg sebenarnya lapangan parkir yang luas, dan ada warung-warung makan di pinggirnya. Kami makan nasi + ayam bakar, and it cost less than Rp 10.000. Murah bukan? Dari lokasi parkir, kami melalui jalan setapak menuju.... SURGA DUNIA. Subhanallah, keren banget! Allahu Akbar. Luar biasa keagungan-Mu ya Allah! Saya benar-benar terpukau melihat air di kawah yang berwarna turquoise itu. Kawahnya dikelilingi tebing. Pasirnya putih banget. It’s just so amazing. Nggak heran kenapa banyak orang menjadikan lokasi ini untuk foto pre-wedding. Di sekitar kawah juga ada gua kecil, tapi ada papan peringatan supaya nggak berlama-lama di depan gua.


Well, I strongly recommend whoever you are who’s reading this blog to go to Kawah Putih. Lamanya perjalanan benar-benar terbayarkan dengan indahnya pemandangan dari karya agung ciptaan Tuhan ini.


NOTE: Angkot dari Situ Patengan menuju Ciwidey (untuk pulang) hanya ada sampai jam 4 sore kalau weekdays, dan 5 sore kalau weekend. Angkot dari Ciwidey menuju Bandung hanya ada sampai jam 5 sore. Jangan sampai lupa waktu, seperti saya dkk yang akhirnya kesusahan pulangnya. Hehehe. Tapi justru itulah serunya backpacking, bukan?

Curug Cihurang, Curug Ngumpet, Curug Cigamea

Kawasan Gunung Salak Endah, 17 Mei 2008:
Akhirnya kesampaian juga!!

Setelah dua kali gagal ke kawasan Gunung Salak Endah, akhirnya pada hari Sabtu, 17 Mei 2008, saya dan teman-teman berhasil juga ke sana. Kenapa keukeuh banget? Karena di kawasan GSE ini, kita bisa menyambangi 4 curug (air terjun) sekaligus. Di sana ada Curug Cihurang, Curug Ngumpet, Curug Seribu dan Curug Cigamea, yang lokasinya saling berdekatan. Namanya juga backpacker (wannabe), lokasi ‘paket combo’ seperti ini mah nggak boleh dilewatkan.

Seperti perjalanan-perjalanan sebelumnya, first thing to do adalah cari rute angkot. Setelah dapat detail rutenya (hasil browsing blogs di multiply), kini saatnya mencari teman seperjuangan. Kali ini, saya ditemani oleh Juno (again, hore!), Derry (teman kuliah yang mateks, mati ekspresi), Etta dan Denny (dua cewe teman sekantor waktu di perusahaan yang lama).

Sudah kapok karena dua kali kesiangan saat tiba di stasiun Bogor, kami sepakat untuk bertemu di sana jam 9 pagi teng teng. Rencana berjalan seperti diinginkan, saya, Etta dan Denny berhasil tiba di stasiun Bogor jam 9 lebih dikit. Di sana sudah ada Derry dan Juno yang sabar menanti.

Tanpa membuang waktu, kami langsung meluncur menuju kawasan GSE. Dari stasiun Bogor, kami naik angkot 03, turun di terminal Leuwiliang. Lama perjalanan sekitar 45 menit, dan bayar Rp 3000. Dari terminal Leuwiliang, kami naik angkot yang melewati pertigaan Cibatok. Lama perjalanan sekitar 45 menit juga, bayar Rp 4000. Dari pertigaan Cibatok, kami berlima mencarter angkot untuk langsung menuju ke lokasi Curug. Biaya carter Rp 50.000, belum termasuk uang masuk ke kawasan Gunung Salak Endah sebesar Rp 3000 per orang. Dari pertigaan Cibatok hingga ke lokasi, jalannya mendaki. Mungkin di sinilah awal inspirasi pencipta lagu “naik naik ke puncak gunung... tinggi dan lama sekali nyampenya..”

Mungkin ketika Anda browsing tentang curug Cihurang, curug Ngumpet, curug Seribu dan curug Cigamea, Anda akan bingung, sebenarnya keempat curug ini terletak di kawasan Gunung Salak Endah, atau di Taman Nasional Gunung Halimun Salak, atau di Wana Wisata Gunung Bundar?

Well, pertanyaan itu akan terjawab begitu angkot melintasi gapura bertuliskan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, lalu beberapa meter ke depan terdapat gapura selamat datang di Wana Wisata Gunung Bundar, dan kemudian ada papan arah Kawasan Gunung Salak Endah. Intinya, yah, tiga nama area tersebut memang merupakan lokasi keberadaan empat curug di atas.

Back to the trip.
Setelah melintasi gapura-gapura tersebut, angkot kami terus melaju di tengah hijaunya pepohonan di kanan kiri jalan, dan segarnya udara pegunungan. Curug pertama yang kami singgahi adalah Curug Cihurang. Setelah menurunkan kami, angkot pun pulang. Untuk masuk ke Curug Cihurang, kami membayar tiket masuk sebesar Rp 2500. Dari pintu masuk, kami berjalan sekitar 150 meter untuk sampai ke air terjunnya. Curug Cihurang ini tidak terlalu tinggi, tapi cukup bersih dan terawat. Ada dua jalur turunnya (atau terjunnya?) air. Kolam air di bawah curug pun tidak terlalu dalam, sehingga kita bisa foto tepat di depan dinding curug.


Setelah curug Cihurang, kami melanjutkan perjalanan ke curug berikutnya. Kami bertanya terlebih dulu ke warung di depan pintu masuk curug Cihurang. Menurut si Ibu, curug selanjutnya adalah curug Ngumpet, dan jaraknya dekat. Bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Oke deh, yuk mari.

Kami berjalan kaki menyusuri jalan aspal. Di kiri kami adalah hutan, dan di kanan kami adalah lembah. Ada juga pohon cemara di beberapa bagian. Kan, pas banget nih, saya yakin si pencipta lagu “naik-naik ke puncak gunung” mendapatkan inspirasinya di sini. Setelah berjalan sekitar 20 menit, belum ada tanda-tanda curug Ngumpet itu. Apa dia memang ngumpet?

Hey lihat, di depan sana ada warung-warung makan. Biasanya nih, di mana ada lokasi wisata, di situlah ada warung makan. Kami pun kembali semangat. Ternyata eh ternyata, warung-warung ini ternyata untuk menuju ke lokasi Kawah Ratu. Bukan berarti kami salah jalur, lho. Ya sudahlah, mumpung ada warung, kami makan dulu. Ternyata memang benar ya, kalau mau merasakan mie rebus paling enak sedunia, makanlah di tengah dinginnya udara pegunungan sehabis jalan kaki 30 menit. Maknyuss..

Setelah mengisi perut, kami kembali melanjutkan perjalanan. Di tengah perjalanan kami berpapasan dengan adik kecil penjual asongan. Menurutnya, lokasi curug Ngumpet tuh “udah deket kok”. Yuk mari. Sudah dekat katanya. Di tengah perjalanan, kami melintasi lokasi syuting “Be A Man”. Itu lho, acara TV yang bermisi untuk mem-pria-kan para waria. Ya ampun booo...

Setelah berjalan sekitar 10 menit, kok belum juga ada tanda-tandanya? At this point of the marching, kami pun sepakat untuk membuat “Kamus Bahasa Gunung”. Dalam kamus ini, kalau mereka bilang “dekat”, maka artinya adalah “jauh”. Kalau mereka bilang “lumayan”, maka artinya “jauh banget”. Nah, kalau mereka bilang “jauh”, nah ini artinya “lo nggak usah ke sana deh”.


Finally, kami melihat papan nama curug Ngumpet. Again, untuk memasuki lokasi ini, kami membayar tiket masuk sebesar Rp 2500 per orang. Jarak dari pintu masuk sampai ke air terjun lumayan jauh, mungkin ada 200 meter. Curug Ngumpet ini lebih tinggi daripada curug Cihurang. Kolam airnya pun lebih dalam. Di sini juga banyak batu-batu sungai segede gajah. Asumsi kami, mungkin kalau musim hujan deras, lokasi ini bisa-bisa berubah menjadi sungai kecil. Sayangnya, kebersihan curug Ngumpet ini tidak dijaga. Jadi sedikit nggak nyaman untuk menikmati curug ini. Berbeda dengan Curug Cihurang yang memang bersih dan rapi.


Kami melanjutkan perjalanan ke curug selanjutnya. Saat melewati pintu keluar, kami bertanya ke si bapak tiket. Menurutnya, setelah ini kami bisa lanjut ke curug Cigamea saja, karena kalau curug Seribu mah “jauh”. NOTE, ingat Kamus Bahasa Gunung tadi, kalau “jauh” berarti “nggak usah ke sana”. Maka kami memutuskan untuk langsung saja ke Curug Cigamea. Konsekuensinya, nggak tercapai deh target menyambangi keempat curug di kawasan GSE ini. Tapi no worries, karena dari blogs yang sudah saya browsed, curug Cigamea ini memang lebih bagus daripada curug Seribu. Let’s prove it, temans.

Karena sudah kapok berjalan kaki, maka kami berinisiatif untuk naik ojeg ke curug Cigamea. Tapi mereka minta tarif 10.000 per ojeg, while kami berlima. Hmm, mahal juga jatuhnya. Akhirnya kami memutuskan untuk sewa mobil, tapi masalahnya nggak ada mobil yang available di lokasi tsb. Untung ada mobil bak pasir yang ternyata memang akan melintasi curug Cigamea. Dan pak supir mengizinkan kami menumpang. Hore!

Naik mobil bak pasir seru juga. Serasa mau tawuran, hehehe.. Jadi inget waktu banjir bandang di kawasan industri Pulo Gadung, tempat kantor saya yang lama. Kami diungsikan dengan menggunakan truk pasir.

Setelah 15 menit ber-mobil pasir-ria, kami tiba di lokasi curug Cigamea. Kami memberikan uang rokok Rp 15.000 untuk berlima kepada pak supir. Again, untuk memasuki lokasi, kami membayar tiket masuk Rp 2500 per orang. Lalu, kami harus menuruni tangga sekitar 200 meter jaraknya hingga akhirnya mencapai curug. Nah lho, kebayang deh siksaan nanti saat pulang, harus mendaki tangga sejauh ini. I guess this is one of the reason kenapa di gym ada alat buat latihan nanjak.


Dan ternyata, curug Cigamea ini twin waterfall. Seperti curug Cihurang, ada dua jalur turunnya air. Bedanya, kalau curug Cihurang itu pendek dan jarak kedua jalurnya berdekatan, nah curug Cigamea ini tinggi banget dan jarak kedua jalurnya pun berjauhan. Keren!

Air terjun pertama berdinding bebatuan hitam. Kolam airnya tidak terlalu dalam dan dijejali bebatuan sungai pula. Seru buat foto-foto persis di bawah air terjunnya. Kami pun harus lihai memanjati bebatuan itu untuk masuk ke kolam airnya. Sementara, dinding air terjun kedua berwarna cokelat dan hijau lumut. Kolam airnya cukup dalam. Ada beberapa ABG yang berenang di sana. Di lokasi ini juga ada beberapa monyet yang cukup jinak untuk diajak foto bareng.

Curug Cigamea ini nampaknya lebih dikembangkan daripada curug Cihurang dan Curug Ngumpet. Berbeda dengan kedua curug yang kami singgahi sebelumnya, di curug Cigamea terdapat kamar mandi yang bersih, mushalla yang nyaman dan beberapa warung makan yang berjejer rapi. Crowd di sini pun lebih ramai daripada di kedua curug sebelumnya.

Well, it’s a fun exploration we had there. Menikmati serunya hunting air terjun yang terletak tidak jauh dari Jakarta, dan menghabiskan budget tidak lebih dari Rp 100.000 (yippiee!!).

Sukamantri, Bogor

Hai temans,

Wana Wisata Sukamantri, 4 Mei 2008:

Trekking Dadakan


Indonesia memang indah. Bahkan nggak perlu jauh-jauh ke Bali, kita bisa menikmati segarnya alam pertiwi ini di lokasi-lokasi yang terletak tidak jauh dari Jakarta. Setelah puas menikmati Curug Cilember, saya semakin bersemangat untuk menjelajah daerah-daerah wisata di sekitar Jakarta. Tujuan kembali diarahkan ke 4 curug di kawasan Gunung Salak Endah, Bogor. Maklum, masih penasaran karena saat kami ke Curug Cilember beberapa hari sebelumnya, tujuan awal kami sebenarnya adalah ke kawasan GSE ini.


Maka, saya kembali menghimpun massa untuk melakukan perjalanan ini. Hotline kembali dengan mudah dihasut untuk meramaikan suasana. Lalu ada Aris, si kribo yang sempat mangkir dari perjalanan ke Curug Cilember. Ada juga Geo, teman seangkatan yang tahu-tahu sekarang sudah kerja di divisi perdagangan internasional Departemen Perindustrian. Terakhir, ada Welly, bocah Batak autis yang cukup berperan menjadi penggembira di perjalanan ini.


Meeting point kali ini kembali disepakati di Stasiun Kereta Bogor. Kali ini Aris sudah stand-by dari jam 11 menunggu kami yang berangkat dari Jakarta. Karena harus jemput Geo dulu di Depok, kami yang rombongan Jakarta baru tiba di Bogor sekitar jam 12. Aris yang sudah rada sewot kemudian mengusulkan untuk membatalkan rencana ke GSE karena menurutnya sudah terlalu siang. Ia menyarankan untuk trekking di Wana Wisata Sukamantri. Katanya sih di sana juga ada curugnya. Yasudahlah, daripada sama sekali tidak kemana-mana padahal sudah sampai Bogor, kami menuruti Aris untuk ke Sukamantri.

Dari stasiun Bogor, kami jalan (ya betul, jalan kaki..) menuju Ramayana karena Aris berhasil meyakinkan kami bahwa jaraknya tidak terlalu jauh. Yea rite!! Nggak jauh dari Hongkong!


Dari Ramayana, kami carter angkot untuk langsung menuju ke Wana Wisata Sukamantri. Setelah negosiasi dalam bahasa Sunda antara Aris dan Pak Supir, kami di-charge Rp 50.000 untuk perjalanan menuju ke Sukamantri. Sepanjang perjalanan, hujan mulai turun rintik-rintik, dan kemudian lebat. Sempat khawatir juga sih, apakah bisa trekking bila hujan, becyek, nggak ada ojyek?


Tapi kami tetap semangat. Kalau pemadam kebakaran punya motto “Pantang Pulang Sebelum Padam”, kami punya motto “Pantang Pulang Sebelum Foto-foto di Tujuan”.


Setelah sekitar sejam perjalanan, kami akhirnya tiba di portal menuju lokasi Wana Wisata Sukamantri sekitar jam 2 siang. Pak supir angkot pun pulang tapi berjanji untuk kembali menjemput kami jam 5 sore. Dari sana, kami masih harus melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Nggak masalah, kaki sudah terlatih sedari tadi di Bogor. Selama berjalan kaki ke lokasi, kami menikmati sunyinya suasana, segarnya udara pegunungan, dan hijaunya pepohonan. Benar-benar refreshing buat mata yang sudah bosan melihat mobil dan gedung di Sudirman.


Perjalanan kaki ini berlangsung sekitar 30 menit. Kami tidak hanya melalui jalan berbatuan, tapi juga memotong jalan melewati hutan. Benar-benar membelah hutan. Seru banget! Kami harus menyibakan dahan pohon, dan hati-hati agar tidak tersandung akar.



Akhirnya kami tiba di pintu gerbang Wana Wisata Sukamantri. Ketika kami tiba, ada dua atau tiga perempuan yang ternyata men-charter ojeg untuk pulang pergi dari dan ke lokasi. Heh!! Nemu di mana tuh ojeg?! Gila, tahu gitu mah kita juga pakai ojeg tadi.


Untungnya di dalam lokasi masih ada satu warung yang buka. Lumayanlah untuk beli cemilan dan air minum. Sempat ngobrol juga dengan yang punya warung dan bapak penjaga lokasi. Kata mereka, lokasi ini seringnya dipakai untuk perkemahan atau malam keakraban gitu lah. Ketika kami di sana, pengunjungnya benar-benar hanya kami berlima. Kesan sunyi dan tenang pun bisa kami terjemahkan sebagai sepi dan spooky, hehehe.

Di seberang warung tadi, ada titik di mana kita bisa melihat indahnya lembah yang penuh dengan hijaunya pepohonan. But again, harus hati-hati karena di sini tidak dipasang pagar pembatas. Bila lengah sedikit, bisa-bisa kita tergelincir dan menggelinding dengan sukses menjerit ke dasar lembah.



Kami berjalan semakin dalam. Ternyata ada bangunan kecil yang bisa dijadikan aula pertemuan. Ada juga toilet yang sebenarnya tidak terawat kebersihannya, dan ada sumur yang nggak tahu deh airnya gimana. Aris mengklaim dirinya sudah pernah ke Sukamantri, dan mengajak kita untuk semakin menyusuri ke dalam hutan untuk menuju air terjun. Kami kembali membelah tengah hutan becek. Benar-benar harus hati-hati karena licin dan di sebelah kita adalah jurang (hmm, menurut saya sih lebih “menantang” daripada Curug Cilember). Kami menyusuri hutan dalam sekitar 30 menit. Dan tiba di titik buntu yang tidak ada air terjunnya, hanya ada aliran kecil air. Ternyata Aris salah ambil jalan. Tapi ya sudahlah, lokasi ini pun lumayan untuk foto-foto. Dan karena sudah kecapekan, kami tidak berinisiatif untuk keukeuh mencari air terjun yang dimaksud Aris tersebut. Yang kami inginkan sekarang adalah, kembali ke Bogor untuk makan banyak!


Ketika kami menyusuri jalan kembali ke, ada sepasang muda-mudi yang justru menuju ke lokasi kami baru saja berada, which is lokasi sunyi senyap. Hmm, mau ngapain hayo??



Perjalanan dari lokasi Wana Wisata hingga ke titik di mana kami di-drop oleh angkot tadi memakan waktu sekitar 1 jam. And yes, kami harus berjalan kaki. Nggak apa-apa, toh nanti dijemput angkot. Betul kan? Iya kan??


Tapi ke manakah si supir angkot??


Waktu sudah menunjukkan pukul 17.30 tapi si angkot belum muncul juga. Daripada beresiko nggak dijemput sama sekali dan kami gelap-gelapan di hutan, maka kami pasrah untuk menyusuri jalan turun untuk kembali ke jalan raya (yang ada angkotnya!) dengan JALAN KAKI lagi. Oh pak supir, teganya engkau pak..


Singkat kata, kami akhirnya tiba di jalan utama dan berhasil mendapatkan angkot untuk menuju ke Ramayana lagi. Menurut Aris, kalau ditotal, kami sudah berjalan kaki lebih dari 10 kilometer hari ini. Ya iyalah, pantesan kaki saya sakit banget. Lha wong nggak biasa jalan kaki sejauh itu.


Setibanya di Ramayana, kami menikmati ayam bakar pinggir jalan. Harga murah, porsi besar, perut kenyang. Nyam nyam nyam...


Meskipun over-exhausted, semangat untuk ke kawasan Gunung Salak Endah, yang sudah dua kali tertunda, tetap ada di dalam otak ini. Lumayan lah perjalanan hari ini, meskipun tidak berhasil mencapai air terjun, tapi berhasil menjelajahi hutan di Wana Wisata Sukamantri, dan menikmati segarnya udara di sana.

Curug Cilember, Bogor

Curug Cilember, 1 Mei 2008:
Langkah Pertama Keliling Nusantara

Ada yang bilang, a giant leap starts from a small step (siapa yang ngomong begitu? Lupa nih..). Perjalanan saya dkk ke Curug Cilember adalah awal karir amatir saya sebagai backpacker.

Sebenarnya ada beberapa pilihan yang tadinya dijadikan sasaran pertama ini, antara lain kawasan Gunung Salak Endah di Bogor, kawasan Ciwidey di Jawa Barat. Berbekal browsing blog orang-orang di www.multiply.com dan ngubek-ngubek archive-nya milis Indobackpacker, saya bertekad untuk menyambangi 4 curug (air terjun) yang ada di kawasan Gunung Salak Endah.

Destinasi sudah tahu, tinggal cari massa. Berhubung akan ke Bogor, target utama adalah Aris, si makhluk kribo ghaib yang memang tinggal di Bogor, dan Juno, wong Solo yang pernah kos setahun di Bogor juga (ya iyalah, kalo kos-nya di Solo, ngapain juga diajak?).

Hari dan jam janjian pun ditentukan. Kamis 2 Mei 2008, pas hari libur nasional, jam 10 di stasiun kereta Bogor. Juno adalah yang pertama tiba di sana, on time as usual. Lalu tibalah saya, 30 minutes late, not as usual (hehehe, pembelaan diri). Lalu kami menunggu si Aris, yang didaulat untuk jadi penunjuk arah berjalan. Lama menunggu, si kribo tidak datang. Ditelpon ke rumah, nggak ada yang angkat. Ditelpon ke HP, nggak aktif. Memang dasar makhluk ghaib. Sebal bercampur pantang menyerah, kami langsung ke warnet yang ada di Taman Topi di seberang stasiun kereta untuk cari petunjuk detail ke kawasan Gunung Salak Endah. Yep, saya memang sebelumnya nggak browsing how to get there, karena terlalu mengandalkan si kribo.

Lesson # 1:
If you’re going somewhere, get the details of how-to. Jangan terlalu mengandalkan teman yang kebetulan tinggal di daerah tersebut, apalagi kalau ghaib macam si kribo Aris.

Sambil browsing dadakan, saya dan Juno mencoba untuk mencari teman lagi untuk ikutan jalan. Yang muncul dalam benak adalah Hotline (yep, it’s her real name), si inang bandar bokep, karena dia memang paling doyan sama yang namanya jalan-jalan murah meriah (sebagai ekstensi dari hobi utamanya jalan-jalan hunting bokep terbaru di Kota). Dan ternyata dia bersedia ikutan. Hore!

Setelah sekitar 20 menit browsing, kami akhirnya sepakat akan ke Curug Cilember di kawasan Cisarua. Juno sudah tahu how-to-get-there meskipun never-been-there. Sambil menunggu inang Hotline, kami makan siang dulu di rumah makan Roda. *Yah, jauh-jauh ke Bogor, makannya Padang juga*. Pas kami selesai makan, terdengarlah suara dengan oktaf tinggi memanggil “Yo, my man”. Yep, itulah sirine tanda Hotline telah tiba. Saatnya berangkat!

Dari Stasiun Bogor, naik angkot 02 Sukasari – Bubulak. Turun di lokasi yang katanya sih bernama Shangrila tapi kok saya nggak melihat keberadaan Hotel Shangrila ya? Hehe, nggak penting. Perjalanan sekitar 15 menit, bayar Rp 2500.

Dari lokasi Shangrila itu, kami lanjut naik angkot warna biru yang bertujuan ke Cisarua. Ternyata Pak Supir Angkot ini sudah well-aware dengan Curug Cilember, dan dia akan kasih tahu ke kami nanti saat mau turun. Sepanjang perjalanan, yang bisa kami lakukan adalah pasrah menikmati pamer paha di jalan menuju Cisarua ini (pamer paha = padat merayap patah harapan). Setelah sekitar 1 jam, kami pun tiba di depan jalan masuk menuju lokasi Curug Cilember. Tarif angkot Rp 4000.

Dari depan jalan masuk tersebut, tidak ada angkot yang menuju ke dalam ke lokasi Curug Cilember. Yang ada hanya ojeg. Para ojeg-ers ini pasang tarif Rp 10.000 untuk menuju ke lokasi. Tapi berkat kehandalah Hotline menawar (maklum, biasa ngebanting harga bokep di Kota), tarifnya turun 30%. Perjalanan ngojeg berlangsung sekitar 15 menit. Sampai di lokasi, kami membeli tiket masuk seharga Rp 6000 per orang, sudah termasuk asuransi.

Melewati loket, sudah terdengar suara aliran sungai yang menyejukkan bagi kami yang sehari-harinya dikelilingi kebisingan lalu lintas Jakarta. Berjalan sekitar 100 m ke dalam, kami tiba di tanah lapang nan hijau. Di sini terdapat beberapa warung makan mie rebus/goreng dan kios souvenir. Di ujung tampak sebuah bangunan kubah bernuansa hijau, yang ternyata adalah Taman Kupu-Kupu. Di dekatnya, terdapat jembatan gantung yang menuju ke lokasi perkemahan, lokasi flying fox, musholla (nyaman banget shalat di sini), dan bila terus ke dalam akan tiba di lokasi Curug 7.

Curug Cilember ini memiliki 7 tingkat air terjun. Curug 1 adalah yang paling tinggi, sangat amat sedikit orang yang bisa (dan berani) mencapai tingkat tersebut karena lokasinya sudah sangat mendaki dan berbahaya. Sementara, Curug 7 adalah tingkat paling rendah. Karena paling mudah untuk mencapainya, Curug 7 adalah yang paling ramai dipadati, mulai dari anak kecil, ABG sampai manula.

Kami tidak menuju ke Curug 7 karena tampaknya di sana sangat ramai. Kami memutuskan untuk mendaki ke Curug yang berada di tingkat atas. Menjelajahi Curug Cilember membutukan fisik yang oke karena jalurnya masih sangat alami, mendaki, dan kadang curam, dengan kanan-kiri kita adalah jurang. Buat saya dan Juno yang berperut kapasitas ekstra dan Hotline yang banyak dosa, perjalanan mendaki ini cukup menantang.

Awalnya kami bingung mau mendaki dari arah mana, karena ada dua arah jalur turunnya orang-orang. Dari kiri, yang sebenarnya sepi. Dan dari kanan, dari arah Curug 7. Kami memutuskan untuk naik dari arah kiri, karena lebih tenang untuk mendaki. Jalur mendaki di sini masih landai. Setelah sekitar 20 menit, kami tiba di tanah lapang dan menemui (ciyeh menemui, sok kenal banget) beberapa kuda poni yang lagi seru-seruan makan siang dengan menu rumput hijau.

Dari sana kami lanjut mencari air terjun tingkat atas (hehe, sounds like sekolahan ya, tingkat atas..). Jalurnya sudah mulai mendaki, sedikit curam dan terkadang licin. Membutuhkan stamina yang oke untuk melewati jalur ini. Setelah 20 menitan mendaki plus ngos-ngosan, kami tiba di tanah datar yang di sana terdapat warung mie dan toilet. Kombinasi yang pas banget ya, mengisi perut dan melepas isi perut.

Ternyata lokasi ini adalah lokasi Curug 5. Di sini juga cukup ramai dengan ABG yang berfoto-narsis-dengan-menggunakan-HP-sambil-mengarahkan-ke-diri-sendiri-plus-maksa-berusaha-menciptakan-lesung-pipit-karena-fotonya-akan-dipasang-jadi-primary-foto-di-friendster. Ilfil dengan gaya para generasi penerus bangsa tersebut, kami memutuskan untuk lanjut mendaki. Jalur ke curug 4, 3, 2 sebenarnya searah dan dipasang peringatan “dilarang masuk tanpa pengawas”. Cuma dasar manusia, rules are made to broken rite? Kami pun melalui jalur ‘terlarang’ tersebut dan mencoba menemukan curug berikutnya.

Jika jalur menuju Curug 5 tadi cukup menantang dan melelahkan. Jalur menuju Curug 4 ini tergolong ‘ampun DJ...’. Curam, licin, dan sebelah kita adalah jurang. Kalau jalur menuju Curug 5 tadi membutuhkan stamina yang oke, jalur menuju Curug 4 ini membutuhkan doa-doa kalau-kalau kita terpeleset dan ... imagine it by yourself. Tapi semua upaya ini terbayarkan ketika sudah tiba di Curug 4.


Curug tingkat 4 ini tidak ramai, tidak tinggi, tidak besar, tapi airnya sangat jernih, udaranya segar, seperti sebuah petit hide-away. Tepat di bawah air terjun, terdapat kolam air yang juga mengalir hingga terjun ke curug 5. Meskipun harus hati-hati karen cukup licin, bermain melintasi bebatuan di sini cukup aman dan menyenangkan.


Setelah puas di Curug 4, kami memutuskan kembali ke daerah Curug 5 untuk mengisi perut di warung mie rebus yang tadi sempat kami lewati. Badan basah dan udara dingin membuat mie rebus ini terasa lezat sekali.

Setelah puas menikmati mie rebus dan gorengan, kami menapaki jalur turun untuk pulang. Selepas dari Curug Cilember, kami melanjutkan perjalanan dengan menggunakan bis antar kota menuju Mesjid At-Ta’awun di Puncak Pass untuk menikmati indahnya view from the top. Pejalanan menyenangkan ini menghabiskan budget di bawah Rp 100.000. Benar-benar menyenangkan! I’ll definitely be back to Curug Cilember!